Bangun dari mimpi 70 tahun

70-th-indonesia-merdeka-rieke-diah-pitaloka

70 tahun Indonesia merdeka. Sudah 70 tahun kita tetap bertahan menjadi Indonesia yang merdeka. 70 tahun kita tetap menyatakan diri sebagai Indonesia. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasang surut sebagai sebuah bangsa 70 tahun kita lalui.

Aku bangga menjadi Indonesia. Aku ingin Indonesia tetap ada di diri kita semua, di diri anak cucu kita. Indonesia harus tetap bertahan hingga 100 tahun, hingga 200 tahun, hingga 1000 tahun. Bertahan sebagai NKRI selama peradaban manusia ada.

Aku mimpikan Indonesia yang Rakyatnya bekerja. Indonesia yang menjadi negara industri dan industri-industri itu kelak tumbuh ciptakan lapangan kerja pertama kali buat Rakyat Indonesia sendiri. Rakyat harus bekerja, Rakyat tak boleh kehilangan pekerjaan. Rakyat harus bekerja dan pertama kali bisa bekerja di dalam negara kita sendiri. Rakyat harus bekerja dengan pekerjaan yang layak, upah layak agar hidup diri dan keluarganya adalah hidup yang layak.

Aku mimpikan Indonesia yang bisa cukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan Rakyatnya. Indonesia yang berdayakan kaum tani, kaum nelayan hingga pedagang-pedagang di pasar tradisional dan warung Rakyat untuk penuhi pertama kali kebutuhan pangan Rakyat itu sendiri. Aku mimpikan Indonesia yang bisa memajukan industri tempe tahu dan kedelainya dari petani Indonesia sendiri. Aku mimpikan para pedagang bakso, sate dan penjual makanan lainnya meracik daging dan bumbu, serta rempah dari peternak dan petani Indonesia sendiri.

Aku mimpikan Ibu Indonesia tersenyum saat belanja di pasar-pasar yang tak becek dan kumuh karena harga-harga yang terjangkau. Aku mimpikan tak ada lagi pertengkaran di rumah-rumah Rakyat Indonesia karena soal ekonomi yang morat-marit atau karena dapur dan keluarga hanya bersandar pada upah minimum yang hanya menjenguk saban satu bulan sekali.

Aku mimpikan Indonesia tidak terperangkap jebakan hutang. Aku mimpikan Indonesia yang kas negaranya tak kedodoran bayar bunga hutang, tapi mampu berikan pendidikan yang berkualitas dan mencetak anak-anak yang bangga dan cinta tanah air yang dilahirkan guru-guru PAUD, TK, SD, SMP, SMU dan para pengajar diĀ  perguruan tinggi yang mampu mengajar dengan penuh cinta dan kasih, karena negara pun hadir di hidup mereka.

Aku mimpikan Indonesia yang sehat yang tak lagi memajang berita “orang miskin ditolak RS”. Aku mimpikan para dokter, bidan dan perawat dan semua tenaga kesehatan yang sehat jasmani dan rohani dan berikan pengabdian terbaik bagi negeri karena negara pun berikan kesejahteraan bagi mereka.

Aku mimpikan Indonesia yang memegang prinsip ketuhanan yang ber Tuhan secara berkebudayaan, dengan tiada egoisme agama, amalkan dan jalankan agama dengan cara beradab, berbudi pekerti luhur, ketuhanan yang hormat menghormati satu sama lain. Aku mimpikan tak ada lagi makian dari mimbar-mimbar di rumah-rumah ibadat karena kemiskinan jadi mada lalu. Tak ada lagi cemburu dan curiga karena para imam tebarkan keteduhan dan membentangkan keimanan yang lahir dari kehidupan berbangsa yang tak lagi ada penindasan, pemiskinan dan pembodohan.

Aku mimpikan Indonesia yang semua kekayaan alamnya bukan hanya milik Rakyat tapi sepenuh-penuhnya untuk memerdekakan Rakyat dari kemiskinan.

Aku mimpi dan terbangun dini hari 17 Agustus 2015 dan selembar nukilan pidato Si Bung yang dibacanya 70 tahun lalu penuhi kepala dan dada.

“Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita bahkan telah beratus-ratus tahun

Gelombang aksi kita mencapai kemerdekaan kita ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.

….Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakikatnya, tetap menyusun tenaga sendiri, tetapi kita percaya pada kekuatan sendiri.

Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya”

Tadi pagi aku nyalakan televisi…nukilan pidato itu, seperti biasa, tak dibacakan di istana.

Besok hari kerja dimulai. Ada 2.121,3 Triliun uang Rakyat yang akan diputuskan.

Aku bangun dari mimpiku, kubuka lagi bata-bata perjuangan yang pernah tersusun (sebagian rontok).

Indonesiaku tak bisa bertahan dengan mimpi dan pidato berlembar-lembar. Aku teriak pada diriku sendiri “bangun, bangkit, bergerak, berjuang!”

Sesak di dadaku masih belum hilang. “Sakit sedikit lawan saja! Derita Rakyat jauh lebih menyakitkan!”

Aku rawat mimpi tentang Indonesiaku, aku berjuang untuk mimpi tentang Indonesiaku. Aku kembali temui kawan-kawan yang pernah punya mimpi yang sama. Kawan-kawan kembali menemuiku.

Rakyat Indonesia aku temui dirimu, lewat tulisan ini aku temui dirimu. Jangan biarkan kita sendiri-sendiri. Genggam tanganku kawan, aku genggam tanganmu. Lukamu lukaku. Sedihmu sedihku juga, bahagiamu adalah cita-citaku. Membanting tulang bersama, memeras keringat bersama untuk kebahagian bersama. Sudah waktunya “mengambil nasib bangsa kita sendiri, di tangan kita sendiri!”

Besok kita mulai.

Kita bukan bangsa pemimpi. Kita bangsa yang berjuang agar mimpi tentang bangsa yang sejati-jatinya merdeka jadi kenyataan.

Aku menunggumu. Sudah tiba saatnya bagi kita untuk tentukan nasib bangsa dan tanah air kita sendiri. Bernama Indonesia. Gotong royong, bahu membahu, bekerja untuk Republik, tidak untuk kesenangan dan kekuasaan sendiri-sendiri.

Doa dan perjuanganku bersamamu

Salam untuk keluarga di rumah. Selamat merayakan kemerdekaan Republik yang ke 70. Semoga Yang Maha Kuasa beri selamat bagi Rakyat dan Bangsa Indonesia. Amin

MERDEKA!

Oleh: Rieke Diah Pitaloka

KOMENTAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *